EKSISTENSI DINAR DAN DIRHAM

Minggu, 08 Mei 2011 0 komentar
Dinar dan dirham telah digunakan oleh umat manusia sejak munculnya peradaban romawi dan Persia, bahkan pada masa nabi Yusuf AS, mata uang yang terbuat dari emas tersebut juga telah digunakan sebagai alat transaksi dalam kehidupan. Namun, kemunculan uang hampa telah melenyapkan penggunaan dinar dan dirham. Padahal secara teori dan implementasi, dinar dan dirham memiliki nilai yang lebih stabil dibandingkan dengan uang hampa, sehingga diyakini bahwa penggunaan dinar dan dirham akan dapat mewujudkan sistem moneter global yang berkeadilan (just world monetary system).
Yang harus kita fikirkan adalah bagaimana cara kita untuk memunculkan kembali penggunaan dinar dan dirham sebagai mata uang yang berlaku didunia, dan berharap akan pulihnya keadaan ekonomi dunia yang saat ini sangat terpuruk. Satu hal yang kita pertanyakan, yaitu apakah pemerintah belum percaya tentang keampuhan dinar dan dirham sebagai pemulih keterpurukan ekonomi dan dapat menstabilkan perekonomian negara? Atau mungkin dinar dan dirham belum mampu menggantikan uang hampa yang sekarang sudah sangat mempengaruhi kegiatan ekonomi dunia?
Munculnya dolar sebagai ukuran moneter dunia belumlah menjamin kestabilan mata uang negara-negara lain. Contohnya adalah Indonesia. Pada saat rupiah mengalami appresiasi terhadap dolar, maka perekonomian dianggap membaik, sedangkan pada saat rupiah mengalami depresiasi terhadap dolar, maka perekonomian Indonesia dianggap merosot. Dolar tidak dapat menjadi sebagai mata uang yang menentukan tingkatan perkembangan ekonomi suatu negara dikarenakan dolar tidak memiliki kestabilan selalu terjaga dengan baik. Ketidakstabilan dolar diakibatkan karena fluktuasi tingkat inflasi dan adanya tindakan spekulasi dalam valas, yang pada akhirnya akan mempengaruhi permintaan dan penawaran akan dolar. Semakin tinggi permintaan dolar pada suatu negara, maka semakin tidak berharga pula mata uang negara tersebut. Begitu juga sebaliknya, saat permintaan dolar menurun, maka dapat dianggap bahwa nilai mata uang meningkat. Namun hal yang paling sering terjadi adalah selalu meningkatnya permintaan dolar pada negara lain sehingga banyak negara-negara (khususnya negara islam) yang mengalami keterpurukan ekonomi.
Dinar dan dirham dipandang sebagai mata uang yang memiliki kestabilan nilai karena memiliki nilai intrinsik yang tinggi, yaitu terbuat dari emas dan perak. Seperti yang kita ketahui, nilai emas dan perak pada setiap tahunnya akan selalu stabil, bahkan kestabilan nilai tersebut berlaku pada setiap Negara. Kita misalkan, satu dinar di Indonesia memiliki harga Rp 1.400.000, dimana dengan uang Rp 1.400.000-, tersebut dapat membeli seekor kambing. Maka, jika kita bandingkan dengan Turki, nilai satu dinar Turki juga dapat digunakan untuk membeli seekor kambing. Hal ini disebabkan karena nilai dinar dan dirham memiliki nilai intrinsik 100% yang akan selalu berlaku sama pada negara manapun. Untuk itu dinar dan dirham disebut sebagai mata uang yang bersifat universal. Sangat berbeda dengan uang hampa yang berlaku sekarang, pada masing-masing negara memiliki nilai mata uang yang berbeda yang selalu tergantung pada nilai dolar. Bahkan untuk melakukan transaksi antar Negara, maka nilai mata uang suatu negara terhadap negara lainnya tidak berlaku kecuali telah ditukar dengan dolar. Hal ini menunjukkan bahwa dinar dan dirham dapat menghindari spekulasi harga pada pasar valuta asing dan yang paling utama adalah dapat menghindari terjadinya inflasi pada suatu negara.
Selain itu, dinar dan dirham juga kebal terhadap spekulasi harga pada pasar valuta asing. Karena dinar dan dirham memiliki nilai yang stabil dan juga bebas dari unsur riba. Bisa kita bayangkan seperti apa tindakan spekulatif dalam pasar valuta asing terhadap uang hampa. Dan semua ini tidak berlaku pada dinar dan dirham.
Realita yang terjadi saat ini adalah betapa besarnya ketergantungan terhadap dolar, sehingga negara yang neraca perdagangannya defisit akan lebih banyak mengalirkan dananya keluar negara daripada dana negara luar yang masuk ke negaranya. Ini akan memaksa negara tersebut untuk berhutang ke Negara yang lebih kaya ataupun pada IMF (International Monetary Found) yang merupakan lembaga keuangan terbesar di dunia. Maka negara-negara kaya yang umumnya menganut sistem kapitalisme akan dengan mudahnya menentukan bunga terhadap pembayaran hutang suatu negara. Apalagi jika negara tersebut mengalami depresiasi terhadap mata uangnya, maka sungguh akan sangat sulit untuk membayarkan hutangnya. Jadi, berhutang dengan uang hampa yang digunakan saat ini bukanlah menjadi solusi untuk memperbaiki keuangan negara, melainkan akan menimbulkan masalah baru yang akan lebih berat pada masa selanjutnya. Akan tetapi, jika berhutang dengan menggunakan dinar atau dirham, maka untuk sampai kapanpun nilai dinar dan dirham tersebut tidak akan berubah.
Nah, bagaimana menerapkan kembali penggunaan dinar dan dirham menjadi mata uang?
Memunculkan kembali dinar dan dirham telah menjadi pembicaraan hangat para pakar-pakar ekonomi islam. Tapi bukanlah hal yang mudah untuk dapat mengganti sistem keuangan yang sedang dijalankan di dunia ini. Butuh waktu yang lama dan cara yang bertahap untuk dapat menerapkan kembali penggunaan dinar dan dirham di Negara-negara islam khususnya. Tapi jika pemerintah berkomitmen untuk melakukan hal tersebut, maka akan sangat mudah untuk memprosesnya. Selain itu, merubah secara cepat dan secara totalitas akan dapat merusak sistem ekonomi yang telah ada. Jadi meskipun penerapan dinar dan dirham akan berpengaruh baik terhadap ekonomi, namun dalam proses penerapannya haruslah mempertimbangkan resiko-resiko lain terhadap situasi perekonomian yang sedang berjalan.
Saat ini, orang-orang mungkin juga sudah menyadari akan keunggulan dari dinar dan dirham dan juga kekurangan dari penggunaan uang hampa. Di Indonesia juga telah dirancang teknik dan metode untuk menerapakan penggunaan dinar dan dirham sebagai atur perekonomian Indonesia. Beberapa institusi besar di Indonesia yang telah menyepakati penerapan dinar dan dirham dalam sebuah konferensi pada tahun 2003 yang di lakukan di Jakarta, Institusi tersebut adalah ICMI, MUI, Yayasan Dinar Dirham, PNM, Wakala Adina, MES, Asbisindo dan FOZ. Dan kita sangat berharap rancangan mereka tersebut akan membuahkan hasil.
Namun, seberapa besar kemungkinan kita akan mampu menerapkan dinar dan dirham sebagai mata uang? Itu semua sangat tergantung pada Amerika Serikat yang merupakan negara super power didunia, tentunya mereka sangat tidak menginginkan dinar dan dirham Berjaya didunia karena itu akan dapat menghilangkan julukannya sebagai negara super power. Sebab untuk saat ini merekalah yang mempengaruhi perekonomian dunia. Baik dan buruknya perekonomian tergantung pada tindakan Amerika.
Hal ini bukan berarti dinar dan dirham tidak dapat direalisasikan. Butuh kekompakan dan komitmen yang tinggi dari setiap negara khususnya negara islam untuk menjadikan dinar dan dirham sebagai mata uang utama, serta yakin dan bersungguh-sungguh jika memang ingin memulihkan keterpurukan ekonomi yang sedang terjadi saat ini. Seperti apa kebijakan politik yang akan digunakan, itulah yang akan harus difikir oleh negara-negara islam di dunia.
Semoga pada suatu saat penggunaan dinar dan dirham dapat direalisasikan sehingga dapat memulikan perekonomian negara-negara miskin dan sedang bekembang serta membungkam adanya negara super power yang dalam kenyataannya sangat merugikan negara-negara yang perekonomiannya lemah, khususnya negara-negara muslim.

0 komentar:

Posting Komentar

 

©Copyright 2011 ART POINT | TNB